Selasa, 13 Januari 2015

Strategi menjadi job seeker dan job creator di era MEA 2015

Seperti semua orang sudah tahu bahwa tahun 2015 kita akan menghadapi pasar bebas Asean atau yang lebih dikenal dengan Masyarakat Ekonomi Asean. Dimana Pada tahun 2015 mendatang, kesepakatan Masyakarat Ekonomi ASEAN atau pasar bebas ASEAN mulai diberlakukan.
Persaingan bebas pun tak terhindarkan. Baik dari sisi bisnis maupun dari sisi ketenaga kerjaan dan  akan semakin meningkat menjelang pemberlakuan Pasar Bebas Asean pada akhir 2015 mendatang. Karena Masyarakat Ekonomi Asean tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa tetapi juga pasar tenaga tenaga kerja professional.
Jika ingin tetap bisa bersaing, tentunya Indonesia harus berbenah. Karena di beberapa sektor industri utama kita daya saingnya masih kalah dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya.
Tantangan
Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 merupakan  tantangan, peluang dan juga ancaman. Tergantung dari kesiapan seluruh stakeholders dan masyarakat Indonesia.
MEA bisa saja menjadi peluang jika kita mampu memanfaatkan momentum tersebut sebagai tantangan dan peluang dengan meningkatkan daya saing, sehingga kualitas dan layanan semakin baik dan setara setingkat kualitas internasional.
Indonesia dengan kekayaan sumber daya alamnya dan jumlah penduduknya yang banyak menjadi bekal terbesar dalam memasuki pertarungan pasar MEA. Namun sebenarnya siapa yang diuntungkan oleh adanya aturan pemberlakukan MEA?
Struktur ekonomi Indonesia yang lebih banyak ditopang  oleh usaha mikro, kecil dan menengah merupakan kesempatan dan momentum bagi perbaikan dan peningkatan kualitas produk dan jasa UMKM.
Pemerintah dituntut  bukan saja menjadi wasit, tetapi menjadi regulator yang dapat mendorong meningkatnya peran UMKM dalam perekonomian nasional.
 Ada 4 pilar dasar yang dapat di instal kepada pelaku UMKM agar mampu berdaya saing dalam pasar bebas Asean,  yaitu dari mindset, skillset, toolset, actionset.
Artinya pemerintah dalam mendorong berkembangnya UMKM Indonesia dapat memberikan pelatihan-pelatihan yang mengacu pada 4 pilar dasar dalam berbisnis tersebut.
Perubahan mendasar tersebut bisa di mulai dari mindset para pelaku UMKM, karena mindset menjadi landasan yang kuat tempat di mana keyakinan bersarang yang akan menjadi pondasi bagi para pelaku UMKM dalam mengambil keputusan, karena ketika mindset para pelaku UMKM benar maka bisa mempercepat dalam pengambilan keputusan dan tindakan yang baik dan benar.
Perubahan mindset saja tidak cukup,  apabila tidak di imbangi dan di bekali dengan  skillset yang memadai. Karena skillset dalam berbisnis merupakan seperangkat keahlian yang harus di miliki oleh para pelaku UMKM agar bisa tetap survive, diantaranya adalah kemampuan berbahasa asing, kemampuan memimpin, kemampuan menjual, kemampuan bernegosiasi, kemampuan melatih team, kemampuan mengelola keuangan, dan lain-lain.
Semakin banyak bekal skill yang diberikan kepada UMKM Indonesia, maka semakin besar potensi UMKM bisa berhasil, bertumbuh dan berkembang serta dapat bersaing dalam pasar bebas Asean.
Untuk dapat mendukung langkah langkah tersebut di butuhkan toolset,  dimana dalam hal ini Pemerintah berperan penting, karena toolset yang dapat di pakai oleh para pelaku UMKM lahir dari kebijakan kebijakan pemerintah yang berpihak kepada UMKM Indonesia.
Ketika para UMKM sudah memiliki mindset, langkah penting seterusnya adalah  diperlukan pelatihan-pelatihan yang berbasis actionset. Mengapa actionset? Karena dengan actionset segala tindakan menjadi tertata sebagai implementasi dari sebuah strategi pasar untuk mencapai target atau goal yang di raih dari apa yang sudah di tetapkan.
Demikan seharusnya akselerasi yang harus dilakukan oleh  pemerintah. Tanpa persiapan yang memadai maka MEA akan menjadi kedok terjadinya liberalisasi yang dilegalkan oleh Pemerintah.
Bagi para pelaku usaha UMKM, MEA harus menjadi tantangan. Menyerahkan segalanya kepada pemerintah adalah sebuah kenaifan. Kita harus mampu bersinergi secara positif dengan para pengusaha lainnya, dengan kekuatan lainnya dan dengan kekuatan-kekuatan lokal  yang menjadi cirri khas produk Indonesia.
Beberapa solusi yang ditawarkan untuk menghadapi AEC 2015 di antaranya adalah :
1. Mengubah ‘mindset’ konsumtif menjadi produktif sehingga kita bisa mengurangi pengeluaran dan memperbesar pemasukan bagi negara kita.
2. Meningkatkan ‘Competitiveness’ produk yang akan berpengaruh pada ketertarikan konsumen akan produk yang kita hasilkan dengan kualitas terjamin dan harga yang terjangkau.
3. Diversifikasi dan peningkatan nilai tambah bahan baku dari sumber daya alam yang melimpah menjadi produk berorientasi ekspor.
4. ‘Competitiveness’ sumber daya manusia karena kunci dari kemajuan bangsa adalah bukan karena kekayaan alamnya melainkan SDM yang ada di dalamnya.
5. Mempersiapkan lulusan perguruan tinggi yang mampu berkompetisi minimal di tingkat ASEAN (kedepan semua profesi harus memiliki sertifikasi tingkat ASEAN) dan tiap tenaga profesional memiliki semangat yang tinggi.
6. Mengubah ‘mindset’ pegawai menjadi entrepreneur (pengusaha) sehingga diharapkan akan muncul pengusaha-pengusaha baru yang dapat menciptakan lapangan kerja dan memenuhi kebutuhan masyarakat indonesia secara mandiri sehingga tidak bergantung terhadap negara lain.
PERLU diketahui bahwa pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 bukanlah sebuah proyek ”mercusuar” tanpa roadmap yang jelas. MEA 2015 adalah proyek yang telah lama disiapkan seluruh anggota ASEAN dengan visi yang kuat.
Selain strategi menjadi job creator, disini saya akan menuliskan tentang strategi menjadi job seeker. Dalam mencari pekerjaan dibutuhkan strategi yang tepat agar tidak menganggur terlalu lama. Berikut beberapa strategi untuk mencari pekerjaan:
Tinggalkan zona nyaman Anda. Jangan hanya mencari pekerjaan di industri yang sudah Anda kenal baik saja. Ketika mengetik resume dan cv, cantumkan pula kualifikasi yang Anda miliki yang cukup berharga dan bisa digunakan dalam pekerjaan lain, seperti kepemimpinan dan komunikasi. Jangan lupa untuk memberikan contoh kemampuan Anda tersebut saat dipanggil wawancara nanti. Sehingga ketika ada lebih dari 1 posisi yang terbuka di perusahaan tersebut, mereka akan bisa mencoba mengalihkan Anda ke posisi yang berbeda dan mereka tiliki mampu Anda emban.
Minimalisir celah sejarah pekerjaan. Perusahaan yang membutuhkan karyawan akan mencari calon pekerja yang tetap menjaga profesionalitasnya, dan tetap mengasah kemampuannya selama periode kosong. Jika Anda berhenti bekerja akibat satu dan lain hal, misal, kantor Anda mengalami kebangkrutan, dan Anda belum bisa mencari pekerjaan lain, coba isi jeda waktu sebelum mendapatkan pekerjaan baru dengan kegiatan berguna. Contoh; pekerjaan lepasan (freelancing), magang, atau menjadi tenaga sukarela agar tetap aktif secara profesional. Pertimbangkan pula untuk mengambil kelas atau pendidikan untuk menambah pengetahuan Anda di area yang lain.
Fleksibel. Ketika persaingan makin ketat dalam dunia pencarian kerja, amat penting jika Anda mampu terus terbuka dengan kemungkinan apa pun. Jangan terpatok pada jabatan, gaji, atau fasilitas yang Anda dapatkan dulu. Ketika Anda sudah bisa membuktikan kualitas dan kemampuan Anda kepada perusahaan, barulah kemudian pertimbangkan negosiasi ulang untuk hal-hal yang Anda rasa layak Anda dapatkan.
Atur ulang jejak-jejak digital Anda. Hasil foto yang Anda posting di halaman pribadi bisa saja akan terlihat oleh calon atasan Anda. Bukan hal mustahil jika pihak perusahaan tempat Anda melamar akan mencari tahu latar belakang Anda lewat search engine. Hanya butuh waktu beberapa detik saja, mereka akan bisa melihat masa lalu, aktivitas, dan hal-hal pribadi Anda lainnya. Karena itu, usahakan agar laman-laman situs, blog, atau apa pun di internet yang berkaitan dengan Anda tertata rapi dan tidak membahayakan reputasi Anda.
Mencari pekerjaan sebelum diiklankan. Saat membeli surat kabar untuk mencari lowongan, jangan lupa untuk membaca isi lainnya juga. Caritahu perusahaan-perusahaan yang sedang berkembang untuk memprediksi kemungkinan mereka sedang butuh karyawan. Kirimkan lamaran sebelum mereka memasang iklan lowongan. Perusahaan-perusahaan ini akan butuh karyawan baru juga pada akhirnya.
Perlebar pencarian. Biasanya, pada kolom lowongan, akan ada pembagian sesuai bidang atau industri. Untuk memperluas kesempatan Anda, cobalah untuk melirik ke kolom-kolom yang lainnya. Siapa tahu ada lowongan yang sebenarnya menarik untuk Anda coba.
Jejaring. Katakan kepada semua orang yang Anda tahu bahwa Anda sedang mencari pekerjaan. Termasuk kepada teman-teman di situs jejaring. Berikan informasi secukupnya, misal; alasan, dan kualifikasi Anda. Namun, ketika Anda melakukan hal ini, pastikan Anda tidak mengganggu teman-teman Anda atau membombardir mereka yang berusaha menolong dengan pertanyaan-pertanyaan.
Customize. Mengirimkan resume dan surat lamaran generik tak akan bisa mengambil perhatian calon pemberi kerja potensial. Siapkan satu resume dan curriculum vitae untuk masing-masing tempat yang Anda ingin kirimkan lamaran. Cantumkan kelebihan dan kemampuan Anda sesuai bidang deskripsi pekerjaan yang dituju. Perusahaan ingin melihat kecocokan Anda dengan pekerjaan yang lowong tersebut.
Tingkatkan pemasaran diri Anda. Cari tahu keahlian apa yang paling dibutuhkan di lapangan Anda dan ambil langkah –seperti mendaftarkan diri ke universitas terbuka, atau seminar akhir pekan, untuk memperkaya diri Anda akan bidang tersebut. Menghadiri acara-acara yang diadakan oleh perkumpulan profesi dan membaca publikasi yang relevan dengan bidang Anda juga akan membantu Anda memandang sesuatu dengan cara pandang berbeda.
Ikut perusahaan outsourcing. Perusahaan-perusahaan outsourcing atau staffing memiliki akses ke lowongan-lowongan tertentu yang tak diiklankan. Selain itu, mereka pun bisa menggandakan kemungkinan Anda mendapatkan pekerjaan. Mereka juga bisa memberikan Anda masukan berarti untuk resume, surat lamaran, dan kemampuan menghadapi wawancara, membantu Anda meningkatkan teknik pencarian pekerjaan Anda, sekaligus menambah kemungkinan mendapatkan pekerjaan.

Demikian deskripsi saya tentang stategi menjadi job creator dan job seeker. Semoga bermanfaat untuk semua.

Senin, 05 Januari 2015

Sertifikat Seminar Pasar Modal


seminar yang diadakan oleh BEM FE UG berjudul " be smart investor with capital market as a choice of investment". memberikan gambaran secara detail tentang pasar modal dan keuntungan berinvestasi di pasar modal.

Minggu, 04 Januari 2015

Contoh Paragraf Generalisasi, Analogi dan Kausalitas di Bidang Ekonomi

Contoh Paragraf Generalisasi :
Masalah kepadatan penduduk selalu menjadi masalah yang dihadapi di Jakarta, itu dikarenakan banyaknya pendatang yang berdatangan untuk menetap ataupun mencari perkerjaan di Jakarta. Menurut publikasi BPS pada tahun 2012 jumlah penduduknya meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini seharusnya menjadi acuhan pemerintah berkerja sama dengan masyarakat untuk mengurangi tingkat kenaikan jumlah penduduk di Jakarta. Banyak sekali cara untuk mengurangi penduduk yaitu ; Menggalakkan program KB atau Keluarga Berencana untuk membatasi jumlah anak dalam suatu keluarga secara umum dan masal, sehingga akan mengurangi jumlah angka kelahiran dan Menunda masa perkawinan agar dapat mengurangi jumlah angka kelahiran yang tinggi.

Contoh Paragraf Analogi :
Dalam fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma, memiliki 2 program studi yaitu Akuntansi dan Manajemen. Kedua program ini memiliki perbedaan dalam masing-masing pembelajarannya.  Dalam Akuntansi lebih ditekankan kepada pembuatan laporan keuangan. Sedangkan Manajemen, pembelajarannya lebih menekankan dalam mengatur serta mengawasi jalannya kegiatan suatu perusahaan. Namun demikian, keduanya tetap memiliki kesamaan yaitu masih berada dalam 1 fakultas yang sama, yaitu fakultas Ekonomi.

Contoh Paragraf Kausalitas :
Harga beras dan kebutuhan pokok lainnya menlonjak tinggi. Kenaikan harga-harga tersebut mencapai dua kali lipatnya dari harga semula. Sehingga mengakibatkan beberapa warung menjadi gulung tikar, dan sebagian yang lain menaikan harga dagangannya. Oleh karena itu, biaya hidup anak kost atau perantau terutama di kota-kota besar bertambah mahal.


Selasa, 23 Desember 2014

Job Seeker and Job Creator

Pada kesempatan kali ini saya akan mengutarakan pendapat saya mengenai job seeker dan job creator. Yang saya ketahui mengenai job seeker adalah pencari kerja sedangkan job creator adalah pencipta lapangan pekerjaan. Jadi menurut pendapat saya dilihat dari segi benefit  yang di peroleh jelas lebih menguntungkan menjadi job creator dibanding job seeker. Kenapa? Karena dengan menjadi job creator kita dapat menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain dan tentunya jelas mengurangi jumlah pengangguran yang ada di Negara kita yaitu Indonesia raya. Kurangnya tenaga ahli dan kemampuan masyarakat seperti menganalisis pasar menjadi kendala masyarakat kita untuk menjadi job creator atau bisa disebut entrepreneur. Terlebih lagi jika bisnis yang kita tekuni mengalami masalah, selain diperlukan keahlian, ketelitian, kesabaran menjadi seorang entrepreneur juga harus mempunyai keuletan untuk kelancaran dan kemajuan usahanya. Di sini akan saya berikan beberapa kendala yang dihadapi oleh para pengusaha baru yaitu :
1. Ketidakmampuan Manajemen
Dalam kebanyakan UKMK, kurangnya pengalaman manajemen atau lemahnya kemampuan pengambilan keputusan merupakan masalah utama dari kegagalan usaha. Pemiliknya kurang mempunyai jiwa kepemimpinan dan pengetahuan yang diperlukan untuk membuat bisnisnya berjalan.
2. Kurang Pengalaman
Idealnya, calon wirausahawan harus memiliki keterampilan teknis yang memadai (pengalaman kerja mengenai pengoperasian fisik bisnis dan kemampuan konsep yang mencukupi); kemampuan memvisualisasi, mengkoordinasi, dan mengintegrasikan berbagai kegiatan bisnis menjadi keseluruhan yang sinergis.
3. Lemahnya Kendali Keuangan
Dalam hal ini ada dua kelemahan mendasar yang perlu digarisbawahi, yaitu: kekurangan modal dan kelemahan dalam kebijakkan kredit terhadap pelanggan. Banyak wirausahawan membuat kesalahan pada awal bisnis dengan hanya “modal dengkul,” yang merupakan kesalahan fatal. Wirausahawan cenderung sangat optimis dan sering salah menilai uang yang dibutuhkan untuk masuk ke dalam bisnis. Sebagai akibatnya, mereka memulai usaha dengan modal yang terlalu sedikit dan tampaknya permodalan yang memadai tidak akan pernah tercapai mengingat perusahaan mereka memerlukan semakin banyak uang untuk mendanai pertumbuhannya. Selain itu, tekanan terhadap UKMK untuk menjual secara kredit sangat kuat. Dimana, beberapa manajer melihat peluang untuk mendapatkan keunggulan persaingan terhadap pesaingnya dengan cara menawarkan penjualan kredit. Apapun kasusnya, pemilik bisnis kecil harus mengendalikan penjualan kredit secara hati-hati karena kegagalan mengendalikannya dapat menghancurkan kesehatan keuangan bisnis kecil.
4. Gagal Mengembangkan Perencanaan Strategis.
Terlalu banyak wirausahawan yang mengabaikan proses perencanaan strategis, karena mereka mengira hal tersebut hanya bermanfaat untuk perusahaan besar saja. Namun, kegagalan perencanaan biasanya mengakibatkan kegagalan dalam bertahan hidup dan ini berlaku untuk keduanya usaha besar maupun usaha kecil. Sebab, tanpa suatu strategi yang didefinisikan dengan jelas, sebuah bisnis tidak memiliki dasar yang berkesinambungan untuk menciptakan dan memelihara keunggulan bersaing di pasar.
5. Pertumbuhan Tak Terkendali
Pertumbuhan merupakan sesuatu yang alamiah, sehat, dan didambakan oleh semua perusahaan, tetapi pertumbuhan haruslah terencana dan terkendali. Pakar manajemen Peter Drucker menyatakan bahwa perusahaan yang baru berdiri dapat diperkirakan mengalami pertumbuhan terlalu pesat dibandingkan dengan basis modal mereka apabila penjualan meningkat 40 sampai 50 persen. Idealnya, perkembangan harus didanai dari laba ditahan atau dari tambahan modal pemiliknya, tetapi sebagian besar bisnis mengambil pinjaman paling tidak untuk sebagian investasi modalnya.
6. Lokasi yang buruk
Untuk bisnis apapun, pemilihan lokasi yang tepat untuk sebagian merupakan suatu seni – dan untuk sebagian lagi ilmu. Sangat sering, lokasi bisnis dipilih tanpa penelitian, pengamatan, dan perencanaan yang layak. Beberapa wirausahawan memilih lokasi hanya karena ada tempat kosong. Akibat ketidaktepanan lokasi ini, penjualan tidak berkembang dan bisnis tersebut terancam gagal.
7. Pengendalian Persediaan yang Tidak Baik
Umumnya, investasi terbesar yang harus dilakukan manajer bisnis kecil adalah dalam persediaan, namun pengendalian persediaan adalah salah satu tanggung jawab manajerial yang paling sering diabaikan. Tingkat persediaan yang tidak mencukupi akan mengakibatkan kekurangan dan kehabisan stok, yang akhirnya mengakibatkan pelanggan kecewa dan pergi.
8. Ketidakmampuan Membuat Transisi Kewirausahaan.
Berhasil melewati “tahap awal kewirausahan” bukanlah jaminan keberhasilan bisnis. Setelah berdiri, pertumbuhan biasanya memerlukan perubahan gaya manajemen yang secar drastis berbeda. Kemampuan-kemampuan yang tadinya membuat seorang wirausahawan berhasil seringkali mengakibatkan ketidakefektifan manajerial. Pertumbuhan mengharuskan wirausahawan untuk mendelegasikan wewenang dan melepaskan kegiatan pengendalian sehari-hari – sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh banyak wirausahwan.
 Adapaun beberapa keuntungan menjadi seorang pengusaha adalah sebagai berikut :
Pertama, menjadi bos untuk perusahaannya. Meski saat ini Anda menjadi pengusaha walaupun dalam skala kecil, tidaklah menjadi masalah. Teruslah berusaha dan berdo’a, karena bukannya tidak mungkin kalian menjadi bos untuk usaha yang sedang kalian tekuni saat ini. Lambat laun, Andapun yang menjadi direktur di bisnis yang Anda tekuni.
Kedua, menjadi entrepreneur berarti Anda bisa mengatur dan bukan diatur. Maksudnya disini adalah, Anda sendiri yang mengatur jadwal serta rencana bisnis yang akan dijalankan. Misalnya saja Anda bisa mengatur jam kerja Anda Senin sampai dengan Jumat, kemudian Sabtu dan Minggu bisa digunakan untuk libur. Tapi konsekuensinya, tentu Anda harus bisa menyelesaikan pekerjaan sebelum hari libur tersebut.
Ketiga, dengan menjadi pengusaha anda akan semakin kreatif. Layaknya seperti game online, sebagai pengusaha Anda harus bisa mengatur strategi ketika menghadapi pasar yang jenuh atau banyaknya kompetitor. Menghadapi kondisi tersebut, secara tidak langsung Anda akan terdorong untuk mencari ide-ide cemerlang yang secara tidak langsung membuat Anda semakin kreatif dan inovatif.
Keempat, secara langsung Anda membantu negara untuk memberantas pengangguran. Jelas sekali bahwa Indonesia memiliki tingkat pengangguran yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan negara lainnya. Jadi, dengan menjadi pengusaha, kita bisa merekrut masyarakat di sekitar kita yang belum mendapat pekerjaan. Saya sangat yakin, bisnis akan sangat membantu perekonomian Bangsa ini.
Kelima, menjadi pengusaha akan membantu kita memperbanyak link dan menjadi motivator walau tidak secara langsung. Banyak sekali pengusaha memiliki link di berbagai daerah, sehingga mereka tidak perlu risau ketika harus berkunjung ke suatu daerah.
Keenam, pengusaha bisa multitasking. Memang benar, pengusaha bisa multitasking. Dan, pasti diantara pembaca artikel ini punya pekerjaan lain selain menjadi pengusaha. Disinilah serunya, jadi kita selain mendapat penghasilan dari usaha, juga mendapatkan hasil dari kerja selain menjadi pengusaha tersebut.
Ketujuh, menjadi pengusaha tidak mengganggu waktu bersama keluarga dan beribadah. Waktu kita lebih banyak dihabiskan bersama keluarga, karena kita sendiri yang mengatur waktu kerja dan waktu juga tidak mengganggu waktu kita untuk beribadah.
Adapun beberapa alasan kenapa lebih memilih menjadi entrepreneur dibandingkan pegawai:
Pertama, financial freedom. Artinya, seorang individu ingin terbebas dari masalah keuangan dan keterbatasan ekonomi, serta daya untuk memiliki sesuatu sesuai dengan keinginan.
Kemudian alasan kedua ialah passive income. Alasan ini merupakan sebuah karakter pebisnis yang menggambarkan bahwa dunia bisnis akan menghasilkan keuntungan lebih tanpa harus bekerja lebih, seperti kerja kantoran.
Alasan terakhir adalah more time. Hampir sebagian besar orang yang memulai bisnis membayangkan akan memiliki waktu yang lebih fleksibel dan lebih bebas dalam beraktivitas.
Jadi, menurut saya mengapa tidak mencoba untuk menjadi seorang entrepreneur. Mungkin dengan keseriusan yang dimiliki bisa membantu perekonomian Indonesia.




Rabu, 10 Desember 2014

Analisis kasus kecurangan dari segi etika profesi akuntansi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LatarBelakang       
  
Pentingnya penerapan Etika Profesi merupakan pedoman yang penting dalam berperilaku yang baik dalam  suatu profesi. Belakangan ini banyak sekali pelanggaran dan kecurangan yang timbul akibat penerapan etika profesi yang tidak maksimal. Banyak kecurangan-kecurangan yang timbul karena terkikisnya kejujuran dan kebijaksanaan dalam berperilaku.
Disini akan diulas mengenai Kasus Manipulasi Laporan Keuangan PT KAI. Hal ini menjadi menarik karena memanipulasi laporan keuangan termasuk pelanggaran etika profesi dibidang akuntan dan  bidang akuntansi menjadi pondasi ekonomi yang baik dalam negeri Indonesia ini. Dalam makalah ini penulis akan menjabarkan profil serta kronologi dari kasus Manipulasi Lapoan Keuangan PT KAI.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Profil PT KAI
 
PT. KAI (Persero) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menyelenggarakan jasa angkutan Kereta api yang meliputi aogkutan penumpang dan barang. Pada akhir Maret 2007,
DPR mengesahkan revisi UU No.13/1992 yang menegaskan bahwa investor swasta maupun pemerintah daerah dìberi kesempatan untuk mengelola jasa angkutan Kereta api di Indonesia.

2.2  Kronologi Kasus Manipulasi Laporan Keuangan PT KAI
Dalam kasus tersebut, terdeteksi adanya kecurangan dalam penyajian laporan keuangan. Ini merupakan suatu bentuk penipuan yang dapat menyesatkan investor dan stakeholder lainnya. Kasus ini juga berkaitan dengan masalah pelanggaran kode etik profesi akuntansi.
Diduga terjadi manipulasi data dalam laporan keuangan PT KAI tahun 2005, perusahaan BUMN itu dicatat meraih keutungan sebesar Rp, 6,9 Miliar. Padahal apabila diteliti dan dikaji lebih rinci, perusahaan seharusnya menderita kerugian sebesar Rp. 63 Miliar. Komisaris PT KAI Hekinus Manao yang juga sebagai Direktur Informasi dan Akuntansi Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan mengatakan, laporan keuangan itu telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik S. Manan.  Audit terhadap laporan keuangan PT KAI untuk tahun 2003 dan tahun-tahun sebelumnya dilakukan oleh Badan Pemeriksan Keuangan (BPK), untuk tahun 2004 diaudit oleh BPK dan akuntan publik.
Hasil audit tersebut kemudian diserahkan direksi PT KAI untuk disetujui sebelum disampaikan dalam rapat umum pemegang saham, dan komisaris PT KAI yaitu Hekinus Manao menolak menyetujui laporan keuangan PT KAI tahun 2005 yang telah diaudit oleh akuntan publik. Setelah hasil audit diteliti dengan seksama, ditemukan adanya kejanggalan dari laporan keuangan PT KAI tahun 2005 :
1. Pajak pihak ketiga sudah tiga tahun tidak pernah ditagih, tetapi dalam laporan keuangan itu dimasukkan sebagai pendapatan PT KAI selama tahun 2005.

2. Kewajiban PT KAI untuk membayar surat ketetapan pajak (SKP) pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar Rp 95,2 Miliar yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak pada akhir tahun 2003 disajikan dalam laporan keuangan sebagai piutang atau tagihan kepada beberapa pelanggan yang seharusnya menanggung beban pajak itu. Padahal berdasarkan Standart Akuntansi, pajak pihak ketiga yang tidak pernah ditagih itu tidak bisa dimasukkan sebagai aset. Di PT KAI ada kekeliruan direksi dalam mencatat penerimaan perusahaan selama tahun 2005.

3. Penurunan nilai persediaan suku cadang dan perlengkapan sebesar Rp 24 Miliar yang diketahui pada saat dilakukan inventarisasi tahun 2002 diakui manajemen PT KAI sebagai kerugian secara bertahap selama lima tahun. Pada akhir tahun 2005 masih tersisa saldo penurunan nilai yang belum dibebankan sebagai kerugian sebesar Rp 6 Miliar, yang seharusnya dibebankan seluruhnya dalam tahun 2005.

4. Bantuan pemerintah yang belum ditentukan statusnya dengan modal total nilai komulatif sebesar Rp 674,5 Miliar dan penyertaan modal negara sebesar Rp 70 Miliar oleh manajemen PT KAI disajikan dalam neraca per 31 Desember 2005 sebagai bagian dari hutang. Akan tetapi menurut Hekinus bantuan pemerintah dan penyertaan modal harus disajikan sebagai bagian dari modal perseroan.

5. Manajemen PT KAI tidak melakukan pencadangan kerugian terhadap kemungkinan tidak tertagihnya kewajiban pajak yang seharusnya telah dibebankan kepada pelanggan pada saat jasa angkutannya diberikan PT KAI tahun 1998 sampai 2003.
Perbedaan pendapat terhadap laporan keuangan antara komisaris dan auditor akuntan publik terjadi karena PT KAI tidak memiliki tata kelola perusahaan yang baik. Ketiadaan tata kelola yang baik itu juga membuat komite audit (komisaris) PT KAI baru bisa dibuka akses terhadap laporan keuangan setelah diaudit akuntan publik. Akuntan publik yang telah mengaudit laporan keuangan PT KAI tahun 2005 segera diperiksa oleh Badan Peradilan Profesi Akuntan Publik. Jika terbukti bersalah, akuntan publik itu diberi sanksi teguran atau pencabutan izin praktek. (Harian KOMPAS Tanggal 5 Agustus 2006 dan 8 Agustus 2006).

BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Laporan Keuangan PT KAI tahun 2005 disinyalir telah dimanipulasi oleh pihak-pihak tertentu. Banyak terdapat kejanggalan dalam laporan keuangannya. Beberapa data disajikan tidak sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Hal ini mungkin sudah biasa terjadi dan masih bisa diperbaiki. Namun, yang menjadi permasalahan adalah pihak auditor menyatakan Laporan Keuangan itu wajar. Tidak ada penyimpangan dari standar akuntansi keuangan. Hal ini lah yang patut dipertanyakan.
Dari informasi yang didapat, sejak tahun 2004 laporan PT KAI diaudit oleh Kantor Akuntan Publik. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang melibatkan BPK sebagai auditor perusahaan kereta api tersebut. Hal itu menimbulkan dugaan kalau Kantor Akuntan Publik yang mengaudit Laporan Keuangan PT KAI melakukan kesalahan.

3.2  Saran
Menurut saya Kasus Manipulasi Laporan Keuangan PT KAI, berawal dari pembukuan yang tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Jadi saran saya, seharusnya sebagai akuntan sudah selayaknya menguasai prinsip akuntansi berterima umum sebagai salah satu penerapan etika profesi. Kesalahan karena tidak menguasai prinsip akuntansi berterima umum bisa menyebabkan masalah yang sangat menyesatkan.
Karena profesi Akuntan menuntut profesionalisme, netralitas, dan kejujuran.Kepercayaan masyarakat terhadap kinerjanya tentu harus diapresiasi dengan baik oleh para akuntan. Etika profesi yang disepakati harus dijunjung tinggi. Hal itu penting karena ada keterkaitan kinerja akuntan dengan kepentingan dari berbagai pihak. Banyak pihak membutuhkan jasa akuntan. Pemerintah, kreditor, masyarakat perlu mengetahui kinerja suatu entitas guna mengetahui prospek ke depan. Yang Jelas segala bentuk penyelewengan yang dilakukan oleh akuntan harus mendapat perhatian khusus dan tindakan tegas.
sumber 
 http://mayangveva.blogspot.com/2013/11/makalah-kasus-pelanggaran-profesi.html


Minggu, 23 November 2014

Paragraf deduktif-induktif

# Contoh 1

Chairil Anwar terkenal sebagai penyair. Ia disebut penyair yang membawa pembaharuan dalam puisi. Ada yang mengatakan dia sebagai seorang individualis. Ada yang menilai bahwa ia seorang yang kurang bermoral dan plagiat karena ada sebagian kecil dalam gubahannya merupakan jiplakan dari puisi asing. Dalam sajak-sajaknya yang dikumpulkan dalam "Deru Campur Debu" memperlihatkan adanya perbedaan bentuk, corak, gaya, dan isi. Tanggapan orang terhadap Chairil berbeda-beda. Namun, bagaimanapun ia tetap seorang penyair besar yang membawa kesegaran baru dalam bidang puisi pada 1945


# Contoh 2

Di dalam memutuskan suatu kebijakan, presiden sebagai kepala negara dan sebagai kepala pemerintahan sangat membutuhkan pertimbangan dan nasehat dari seseorang atau sekelompok orang. Tujuannya ialah agar kebijakan yang diputuskannya sesuai dengan prinsip hukum, demokrasi, pemerintahan yang baik untuk mencapai tujuan negara. Para pendiri bangsa ini menyadari akan kebutuhan presiden mengenai hal itu. Oleh karena itu, Undang - Undang Dasar kitamengamanatkan untuk emmbentuk suatu dewan yang bertugas untuk itu. Yang penting adalah kebutuhan presiden akan pertimbangan dan nasehat dari pihak lain dapat terpenuhi sehingga ia tidak menyalahi peraturan yang ada.


# Contoh 3

Peningkatan taraf pendidikan para petani sama pentingnya dengan usaha peningkatan taraf hidup. Petani berpendidikan cukup dapat mengubah sistem pertanian tradisional, misalnya bercocok tanam hanya memenuhi kebutuhan pangan, menjadi petani yang produktif. Petani yang berpendidikan cukup, mampu memberikan umpan balik yang setimpal terhadap gagasan-gagasan yang dilontarkan perencana pembangunan, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. itulah sebabnya peningkatan taraf pendidikan para petani dirasakan sangat mendesak.
  

Paragraf Deduktif

Contoh paragraf deduktif dari koran :
a.    KOTA – Jarang ada pasar tradisional yang menyediakan layanan kesehatan seperti pasar Songgolangit Ponorogo. Dinamakan pos kesehatan pasar alias poskespas karena ditujukan melayani pedagang dan pembeli. Tingkat kunjungan pasien mencapai 20 orang perhari kendati letak poskespas itu terpencil di dekat area parkir. “Letakya nyelempit, kalau orang baru pasti bingung mencari”, ungkap karmini, salah seorang pedagang yang menjadi pasien setia poskespas Pasar Songgolangit, kemarin (16/8).
b.  Pos kesehatan di pasar itu memang di khususkan melayani pedagang dan pembeli. Pedagang tidak akan khawatir meninggalkan dagangannya karena haanya berobat masih di kawasan pasar. Mereka dapat antre saat sepi pembeli. “kebanyakan periksa gula darah dan rematik, mayoritas pasiennya berusia tua,” papar Yayuk. (pra/hw)
c.  Ada juga perda penyelenggaraan pendidikan. Aturan itu juga menggariskan sejumlah kebijakan baru di bidang pendidikan. Misalnya, alokasi bantuan personal kepada sisiwa SD, SMP, SMA/MK swasta. Dengan alokasi itu, siswa tidak mampu tidak perlu khawatir memikirkan biaya membeli seragam, hinnga buku tulis. Sebab, pemkot akan menanggung dalam bentuk barang.